Mungpung bln puasa, silakan kita sedikit berbicara “bisnis dgn Allah SWT” lewat pintu sedekah. Sama Seperti keterangan yg sahih bahwa sedekah dapat melipatkan keuntungan, baik duniawi ataupun ukhrawi. Balasannya sanggup serentak berupa materi ataupun balasan lain seperti kesehatan, kedamaian, keharmonisan rumah tangga. Pahala sedekah amat tentu, telah disebutkan balasnanya sampai 700 kali lipat. Pahala juga dapat dirasakan baik di dunia ataupun diakhirat.
Kisah beberapa orang berhasil, tajir raya dgn proses sedekah telah tidak sedikit dikupas oleh para penceramah. Bukan cuma muslim, melainkan non muslim. Kita kita tidak jarang mendengar kisah, beberapa orang paling kaya dunia, nyata-nyatanya menyisihkan lebih tidak sedikit hartanya terhadap Instansi sosial yg mereka dirikan, ketimbang membawa keuntungan tersebut utk keperluan sendiri.
Tingga bagaimanakah kita merasakan kejaiban sedekah itu dalam hidup kita termasuk juga utk meningkatkan omzet juga meledakan keuntungan business. Terkecuali sedekah ada pula zakat. Sedekah hukumnya sunnah & berupa arahan dgn janji pahala teramat agung. Sedangkan zakat yaitu kewajiban, mengeluarkan harta sudah ditentukan nilainya dalam beraneka ragam keterangan. Contohnya zakat harta (mall), zakat fitrah, zakat profesi, zakat peternakan sampai zakat pertanian.
Zakat ibarat proteksi kepada seluruh harta benda yg kita punyai. Sedangkan sedekah yaitu fasilitas pelipat harta bagi beberapa orang yg berharta bahkan bagi yg tak punyai harta sekalipun.
Business yakni ikhtiar buat mencari dunia. Dalam Islam, business tak semata-mata urusan duniawi yg tak ada kaitannya bersama urusan akhirat atau urusan agama. Kalau usaha dilakukan bersama trik yg baik, halal, jujur niscaya bakal berharga ibadah & jadi karena musabab ridla Allah & berikan izin utk nanti tinggal di surga.
Sebaliknya, berniaga bersama trik yg haram, tak jujur, menipu, judi & tindakan tidak baik yang lain, yakni perniagaan yg dilarang. Factor ini pun menjadikan ikhtiar duniawi tersebut mengundang kemarahan Tuhan, bahkan menciptakan Allah memasukkan manusia terhadap api neraka. Naudubillah.
Sedekah dgn resiko yg dahsayat pada pelipatan harta benda yg dipunyai, layak seandainya kita sebut bersama “promosi langit”. Langit dimaksud yang merupakan promosi yg melibatkan Tuhan dengan cara serta-merta.
Kita percaya, Allah sudah menjanjikan pahala sedekah sekian & sekian. Kita mengimani janji Allah maka kita menginginkan atas janji tersebut. Makin percaya atas pahala sedekah juga mengharapkan pahala itu, makin tinggi juga keimanan satu orang.
Kita tidak jarang berhitung bazet promosi sekian prosen utk business bersama mengharapkan pendapatan sekian dalam satu bln, kita berani mengeluarkan budget itu. Contohnya iklan di internet, iklan menempa brosur. Dgn promosi kita percaya, anggaran yg dikeluarkan bakal kembali sekian prosen.
Bersama janji Allah bakal mengembalikan sedekah sekian %, bukankah sama artinya sedekah itu dgn ekpektasi dari tiap-tiap promosi? Soal mengembalikan pasti rahasia Allah. Apakah lewat perniagaan yg kita melaksanakan atau dari pintu lain yg terkadang tak kita sangka & di luar dugaan (minhaesu layahtasib).
Kalau kamu sepakat bersama ide Promosi Langit, rasanya tak butuh lagi promosi dengan cara konvensional. Atau setidaknya bazet promosi konvensional dialokasikan terhadap promosi langit utk membuahkan yg lebih akbar.
Seandainya butuh kamu uji sendiri. Seandainya sampai kini promosi konvensional business laundry kamu se gede Rp500 ribu perbulan, tulis akhirnya mendatangkan omzet berapa. Kamu bisa juga menguji, promosi langit bersama biaya yg sama. Manakah yg lebih akbar akhirnya?
Dari pengalaman, aku teramat merasakan kedahsyatan2 sedekah atau promosi langit tersebut. Sekedar tahdus binnimat, tetap di bln Ramadhan yg mulia ini. Ceritanya aku mesti membayar duit se besar digit 00.000 utk angsuran sepeda motor orang lanjut usia. Aku dgn adik, rata-rata bayar selang satu bln. Lantaran ada sesuatu & lain elemen, salam 3 bln ini aku yg membayar.
Cocok tiga bln ini, angan-angan aku bukan sektor aku yg bayar. Karean argumen tertentu, hasilnya say ayang kembali membayar. Hakul percaya, aku niatkan saja sedekah & berbuat baik pada orang sepuh, aku bayar. Toh dikala aku ada kesusahan, masih sharing bersama keluarga. Niat hri itu trafer. Tapi tak keburu & sukses esok harinya.
Apa yg berlangsung di hri niat aku mentranfer. Kejaiban muncul. Perdana, kurang lebih jam 11 an, aku mendapt tranfer yg nilainya lebih sedikit dari jumlah duit yg bakal aku trafer. Ung tersebut dari pengguna yg diawal mulanya telat bayar. Duit tersebut adalah keuntungan dari product yg aku menjual. Tidak Dengan dibayarpun sebeanrnya aku telah untung. Duit di Rek. telah bertambah bahkan lebih dari yg bakal aku tranferkan.
Kejaiban ke-2, sore hri di hri yg sama, tiba-tiba aku ditelpon seseorang ibu yg mengetahui product dari internet. Tuturnya dirinya sedang menuju rumah aku dgn suaminya dapat menonton product.
Tidak Dengan dinyana, nyatanya ibu pembisnis itu serentak membeli product dua satuan sekaligus. Aku kira cuma bakal menyaksikan. Demikian segera duit kembali bersama jumlah yg sekian banyak kali lipat bersama duit yg dapat ke luar hri itu.
Tetapi pasti saja, fakta lain sedekah tidak sedikit berjalan belum tepat ekpektasi. Contohnya sedekah sekian masihlah saja belum ada gantinya. Apakah jani Allah meleset? Seandainya keadaan tidak tepat ekspektasi, marilah konsisten berhusnudon terhadap Allah sambil meningkatkan amalan ritual kita.
Mislanya shalat wajib cocok disaat & berjamaah yg didorong dgn shalat duha pun shalat tengah malam. Shalat, dengan cara ritual adalah ibadah mahdoh. Tapi dampanya berikan keleluasaan duniawi, di samping keleluasaan ukhrawi nanti di akhirat.
Kisah di atas bukan semata-mata menggampangkan atau mencocokan rencana agama, antara dalil sedekah bersama pengalaman yg kita hadapi. Setidaknya kita menonton, berlangsung kesesuaian antara keterangan dgn apa yg kita alami.
disamping itu, kita pula berhar, konsisten termotivasi berbuat baik terhadap sesama & meningkatkan amalan ritual ibadah kita. Efek ibadah bakal serta-merta kembali keapda kita, bukan pada orang lain. Mudah-mudahan kita mampu istiqomah & dijauhkan dari riya. Amiin.(*)
Kisah beberapa orang berhasil, tajir raya dgn proses sedekah telah tidak sedikit dikupas oleh para penceramah. Bukan cuma muslim, melainkan non muslim. Kita kita tidak jarang mendengar kisah, beberapa orang paling kaya dunia, nyata-nyatanya menyisihkan lebih tidak sedikit hartanya terhadap Instansi sosial yg mereka dirikan, ketimbang membawa keuntungan tersebut utk keperluan sendiri.
Tingga bagaimanakah kita merasakan kejaiban sedekah itu dalam hidup kita termasuk juga utk meningkatkan omzet juga meledakan keuntungan business. Terkecuali sedekah ada pula zakat. Sedekah hukumnya sunnah & berupa arahan dgn janji pahala teramat agung. Sedangkan zakat yaitu kewajiban, mengeluarkan harta sudah ditentukan nilainya dalam beraneka ragam keterangan. Contohnya zakat harta (mall), zakat fitrah, zakat profesi, zakat peternakan sampai zakat pertanian.
Zakat ibarat proteksi kepada seluruh harta benda yg kita punyai. Sedangkan sedekah yaitu fasilitas pelipat harta bagi beberapa orang yg berharta bahkan bagi yg tak punyai harta sekalipun.
Business yakni ikhtiar buat mencari dunia. Dalam Islam, business tak semata-mata urusan duniawi yg tak ada kaitannya bersama urusan akhirat atau urusan agama. Kalau usaha dilakukan bersama trik yg baik, halal, jujur niscaya bakal berharga ibadah & jadi karena musabab ridla Allah & berikan izin utk nanti tinggal di surga.
Sebaliknya, berniaga bersama trik yg haram, tak jujur, menipu, judi & tindakan tidak baik yang lain, yakni perniagaan yg dilarang. Factor ini pun menjadikan ikhtiar duniawi tersebut mengundang kemarahan Tuhan, bahkan menciptakan Allah memasukkan manusia terhadap api neraka. Naudubillah.
Sedekah dgn resiko yg dahsayat pada pelipatan harta benda yg dipunyai, layak seandainya kita sebut bersama “promosi langit”. Langit dimaksud yang merupakan promosi yg melibatkan Tuhan dengan cara serta-merta.
Kita percaya, Allah sudah menjanjikan pahala sedekah sekian & sekian. Kita mengimani janji Allah maka kita menginginkan atas janji tersebut. Makin percaya atas pahala sedekah juga mengharapkan pahala itu, makin tinggi juga keimanan satu orang.
Kita tidak jarang berhitung bazet promosi sekian prosen utk business bersama mengharapkan pendapatan sekian dalam satu bln, kita berani mengeluarkan budget itu. Contohnya iklan di internet, iklan menempa brosur. Dgn promosi kita percaya, anggaran yg dikeluarkan bakal kembali sekian prosen.
Bersama janji Allah bakal mengembalikan sedekah sekian %, bukankah sama artinya sedekah itu dgn ekpektasi dari tiap-tiap promosi? Soal mengembalikan pasti rahasia Allah. Apakah lewat perniagaan yg kita melaksanakan atau dari pintu lain yg terkadang tak kita sangka & di luar dugaan (minhaesu layahtasib).
Kalau kamu sepakat bersama ide Promosi Langit, rasanya tak butuh lagi promosi dengan cara konvensional. Atau setidaknya bazet promosi konvensional dialokasikan terhadap promosi langit utk membuahkan yg lebih akbar.
Seandainya butuh kamu uji sendiri. Seandainya sampai kini promosi konvensional business laundry kamu se gede Rp500 ribu perbulan, tulis akhirnya mendatangkan omzet berapa. Kamu bisa juga menguji, promosi langit bersama biaya yg sama. Manakah yg lebih akbar akhirnya?
Dari pengalaman, aku teramat merasakan kedahsyatan2 sedekah atau promosi langit tersebut. Sekedar tahdus binnimat, tetap di bln Ramadhan yg mulia ini. Ceritanya aku mesti membayar duit se besar digit 00.000 utk angsuran sepeda motor orang lanjut usia. Aku dgn adik, rata-rata bayar selang satu bln. Lantaran ada sesuatu & lain elemen, salam 3 bln ini aku yg membayar.
Cocok tiga bln ini, angan-angan aku bukan sektor aku yg bayar. Karean argumen tertentu, hasilnya say ayang kembali membayar. Hakul percaya, aku niatkan saja sedekah & berbuat baik pada orang sepuh, aku bayar. Toh dikala aku ada kesusahan, masih sharing bersama keluarga. Niat hri itu trafer. Tapi tak keburu & sukses esok harinya.
Apa yg berlangsung di hri niat aku mentranfer. Kejaiban muncul. Perdana, kurang lebih jam 11 an, aku mendapt tranfer yg nilainya lebih sedikit dari jumlah duit yg bakal aku trafer. Ung tersebut dari pengguna yg diawal mulanya telat bayar. Duit tersebut adalah keuntungan dari product yg aku menjual. Tidak Dengan dibayarpun sebeanrnya aku telah untung. Duit di Rek. telah bertambah bahkan lebih dari yg bakal aku tranferkan.
Kejaiban ke-2, sore hri di hri yg sama, tiba-tiba aku ditelpon seseorang ibu yg mengetahui product dari internet. Tuturnya dirinya sedang menuju rumah aku dgn suaminya dapat menonton product.
Tidak Dengan dinyana, nyatanya ibu pembisnis itu serentak membeli product dua satuan sekaligus. Aku kira cuma bakal menyaksikan. Demikian segera duit kembali bersama jumlah yg sekian banyak kali lipat bersama duit yg dapat ke luar hri itu.
Tetapi pasti saja, fakta lain sedekah tidak sedikit berjalan belum tepat ekpektasi. Contohnya sedekah sekian masihlah saja belum ada gantinya. Apakah jani Allah meleset? Seandainya keadaan tidak tepat ekspektasi, marilah konsisten berhusnudon terhadap Allah sambil meningkatkan amalan ritual kita.
Mislanya shalat wajib cocok disaat & berjamaah yg didorong dgn shalat duha pun shalat tengah malam. Shalat, dengan cara ritual adalah ibadah mahdoh. Tapi dampanya berikan keleluasaan duniawi, di samping keleluasaan ukhrawi nanti di akhirat.
Kisah di atas bukan semata-mata menggampangkan atau mencocokan rencana agama, antara dalil sedekah bersama pengalaman yg kita hadapi. Setidaknya kita menonton, berlangsung kesesuaian antara keterangan dgn apa yg kita alami.
disamping itu, kita pula berhar, konsisten termotivasi berbuat baik terhadap sesama & meningkatkan amalan ritual ibadah kita. Efek ibadah bakal serta-merta kembali keapda kita, bukan pada orang lain. Mudah-mudahan kita mampu istiqomah & dijauhkan dari riya. Amiin.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar